Kue
Kekinian Artis
Bisnis
kuliner adalah salah satu bisnis yang paling diminati masyarakat, baik itu
seorang artis ataupun orang biasa. Banyak orang berlomba-lomba untuk mendirikan
sebuah cafe, restoran, ataupun
kedai-kedai kecil pinggir jalan. Namun dari sekian banyak jenis kuliner, para
artis mengambil jenis makanan kue atau dessert
untuk menjadi bidang usaha mereka.
Awalnya,
hanya segelintir artis yang mencoba bisnis kue kekinian ini, contohnya saja
Teuku Wisnu dengan kue Malang Strudel, Dude Herlino dengan Jogja Scrummy, dan
tak lupa juga Bandung Makuta milik Laudya Cynthia Bella. Pada akhir 2017, sudah
ada sekitar 30 artis yang memiliki usaha kue kekinian ini. Namun, tidak semua
artis sukses menjalankan bisnis kue kekinian ini, Ruben Onsu beserta istrinya,
Sarwendah memutuskan untuk berhenti menjalankan bidang usaha kue kekinian artis
ini. Ruben dan Sarwendah lebih memilih bidang usaha lainnya, yaitu ayam geprek.
Bila dikaitkan dengan game theory, yaitu Nash Equilibrium, sudah sangat jelas bahwa mendirikan bisnis kue kekinian ini adalah dominant strategy yang dimiliki oleh mayoritas artis. Awalnya hanya beberapa artis saja yang mulai mencoba menjalankan usaha kue kekinian ini, setelah itu banyak artis lain yang melihat kesuksesan dari usaha kue ini, sehingga banyak artis yang mengikuti jejaknya. Namun yang menjadi pertanyaan adalah sampai kapan usaha kue kekinian milik artis ini akan bertahan? Akankah tahun depan, kue kekinian artis ini akan tetap laku di pasaran tanpa kehilangan konsumen meski jumlah pemain terus bertambah?
Contoh Repeated Games (Tit-for-Tat) :
Perusahaan
Smartphone
Zaman sekarang, gadget telah dijadikan poros utama
kehidupan oleh mayoritas orang. Kebiasaan orang setelah bangun tidur pun telah
berubah, yang biasanya mematikan alarm
dari jam beker, sekarang orang-orang lebih memilih menggunakan alarm dari smartphone mereka, dan setelah mematikan alarm dari smartphone
canggih mereka, tak lupa mereka juga mengecek semua aplikasi media sosial
mereka.
Perubahan
zaman ini tentu saja dimanfaatkan oleh produsen smartphone. Para produsen tidak mau membuang kesempatan emas untuk
memanfaatkan pangsa pasar yang belum dikuasai pihak manapun. Akibatnya, banyak
produsen smartphone yang terus
menjajal pasar dengan produknya. Banyak sekali produk smartphone dari produsen yang berbeda tapi memiliki fitur yang
kurang lebih sama.
Contohnya,
smartphone yang pertama kali
menghadirkan sensor sidik jari adalah smartphone
berbasis Windows, yaitu Toshiba G500 dan Toshiba G900 yang dirilis pada
tahun 2007, lalu diikuti dengan smartphone
asal Cina HTC P6500, setelah itu mulailah produsen smartphone lain berlomba-lomba menghadirkan sensor sidik jari di smartphone terbarunya. Lalu, ketika
sensor sidik jari masih “laku” di pasaran, muncullah Galaxy Nexus (produk hasil
kolaborasi Samsung dengan Google) dengan fitur face unlock. Sekarang fitur face
unlock yang ditawarkan sudah semakin modern dan sangat mudah untuk
menemukan smartphone dengan fitur
tersebut.
Contoh
lainnya adalah tempat tali untuk gantungan di handphone. Pada tahun 2000an, orang-orang berusaha menghias handphone-nya dengan gantungan handphone yang lucu dan ciamik. Lalu,
tahun 2012, Samsung mulai menghilangkan slot
gantungan handphone di produknya, dan
produsen lain seperti LG juga "ikutan" menghilangkan slot tersebut.
Kini, mayoritas produsen smartphone
telah menghilangkan slot gantungan tersebut dari produknya.
Kamera
smartphone pun tak luput menjadi
objek persaingan antar produsen smartphone.
Ketika Samsung merilis produk smartphone
dengan kamera belakang 16 MP pada Galaxy S6 Edge, iPhone datang menyusul
sekitar 1 tahun kemudian, itu pun hanya dengan kualitas 12 MP dengan produknya,
iPhone 7. Meskipun iPhone memiliki pixel
yang lebih rendah, tapi iPhone lebih “memainkan” jenis kamera yang dipakai.
Bila Samsung dengan 16 MP hanya bisa fitur autofocus,
iPhone dengan 12 MP telah dilengkapi juga dengan fasilitas dual tone flash, dan phase
detection.
Inovasi
sangat penting dalam bidang teknologi. Teknologi terus tumbuh seiring zaman
yang bergerak dinamis. Namun, tanpa kita sadari inovasi yang para produsen smartphone lakukan adalah gerakan
"saling membalas" strategi satu sama lain. Manuver ini semata-mata dilakukan
hanya karena tidak ingin kalah saing dan keluar dari industri. Sudah banyak
produsen yang tutup pabrik dan ada juga ada yang mengurangi pegawainya. Sehingga,
kemungkinan besar, tradisi “saling membalas” strategi satu sama lain akan terus
terjadi dan tidak akan berhenti.
Contoh Prisoner’s Dilemma :
Transportasi
Online dan Konvensional
Pada zaman dahulu hingga
tahun 2012, masyarakat masih menggunakan kendaraan umum untuk berpergian ke
tempat tujuan mereka. Kendaraan umum yang digunakan biasanya adalah angkot.
Jika kendaraan umum tidak “lewat”, maka orang lebih memilih menggunakan taksi
konvensional yang tarifnya terbilang cukup mahal. Jika tidak ada taksi, maka
ojek pangkalan menjadi solusi, dengan tarif yang cukup menguras dompet juga.
Sekarang,
zaman sudah berubah, teknologi sudah lebih berkembang. Perkembangan teknologi
membuat kehidupan terasa jadi lebih mudah. Hal yang rumit bisa menjadi
sederhana. Begitu pula halnya dengan transportasi. Zaman sekarang, masyarakat tidak
perlu lagi repot seperti itu. Cukup dengan menggunakan satu jari, kendaraan
akan datang menjemput di tempat orang tersebut berdiri dan mengantar ke tempat
tujuan dengan cepat dan juga selamat, tanpa harus “ngetem” terlebih dahulu.
Pada tahun 2014, berdirilah suatu perusahaan transportasi online pertama di Indonesia, GO-JEK. GO-JEK hadir dengan harga yang jauh lebih murah dibanding dengan harga ojek pangkalan, perbedaannya bisa mencapai hingga 50%. Tak berapa lama dari berdirinya GO-JEK, Uber yang merupakan layanan transportasi online dari Amerika Serikat, hadir dan mulai melayani penumpang di Indonesia. Namun persaingan tidak berhenti sampai di situ, Grab asal Singapura pun turut mewarnai persaingan transportasi online di tanah air.
Ketiga raksasa transportasi online ini, yaitu GO-JEK, Grab, dan Uber, memiliki strategi dominan
masing-masing, dan akhirnya menjadi ciri khas dari aplikasi tersebut. GO-JEK
dengan berbagai macam pilihan layanannya, contohnya, GO-RIDE, GO-CAR, GO-PULSA,
GO-FOOD, GO-MART, GO-BILLS, dan juga GO-POINTS sebagai bentuk membership GO-JEK. Grab lebih fokus
dengan layanan transportasinya, seperti GrabBike, GrabCar, GrabTaxi, GrabHitch,
dan juga GrabRental. Baru akhir-akhir ini ada fitur GrabFood sebagai pesaing
dari GO-FOOD. Seperti GO-JEK, Grab memiliki program membership, yaitu GrabRewards, dimana setiap kelipatan tertentu
akan menghasilkan poin tertentu.
Hadirnya transportasi online telah menjadi solusi permasalahan transportasi yang ada di
masyarakat. Namun bukan berarti transportasi online tidak membawa masalah di masyarakat. Banyak pengendara
transportasi umum konvensional yang memrotes eksistensi transportasi online. Para pengendara transportasi
umum konvensional tidak setuju dengan harga yang sangat murah tersebut, karena
dengan harga yang sangat rendah itu telah menyedot penumpang mereka sehingga
mereka kehilangan mata pencaharian. Seharusnya, pengendara transportasi umum
konvensional tidak perlu protes akan eksistensi transportasi online, karena sebenarnya masih cukup
banyak masyarakat yang masih menggunakan kendaraan umum seperti biasanya, cukup
perbaiki layanan, dan hilangkan kebiasaan “ngetem”-nya saja.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar